Warung Wareg Waras di Jogja Utara

  • Tempat Transit

    Sejak lama, Aris senang berkeliling Jawa dan Bali sendirian dengan motor besarnya. Dari Cirebon menuju Yogyakarta kota, ia mampir ngopi di warung. Pak Dwi dan istri adalah kakak dari Genep. Mereka berkunjung sekalian meninjau apakah warung ini cukup pantas untuk direkomendasikan pada pengunjung homestay yang mereka kelola tidak jauh dari lokasi warung. Ngobrol ke sana…

  • Ngobrol, Masak, dan Rajutan

    Pagi yang cerah di hari ini, warung dimampiri teman yang juga dosen, peneliti, dan perajut. Iwul, Sari Wulandari, mampir membawa berbagai cerita, resep omelette, rajutan, di samping banyak oleh-oleh. Warung tambah ceria dengan hadirnya denting genta angin yang bergerak ke sana ke mari ditiup angin.

  • Tempat Mampir

    Hari ini banyak sekali yang mampir. Harjuni Rochayati, Ati, berkunjung bersama suaminya, Adit, Arief Adityawan. Mampir pas waktu dengan Genep Sukendro habis menyapu halaman. Di sela kunjungan teman-teman, beberapa akamsi (anak kampung sini) yang selama ini hanya melintas di kejaluhan, mampir melihat warung dari dekat. Pak Willy, kandidat doktor Kajian Seni dan masyarakat, menyempatkan mampir…

  • Sah!

    Selain ada tempat berikut jualannya, pelanggan, dan transaksi, sesuatu dapat dianggap resmi menjadi warung ketika mendapat ‘stempel’ berupa kaleng berisi krupuk.

  • Master Ndog Yuhu

    Tony Wagner Siahaan jauh-jauh dari Cinerre, Jakarta, mampir ke warung menghadirkan resep masakan ‘beneran’ yang sudah ia uji-coba berbulan-bulan lamanya. Dua telur mata sapi yang digoreng bersama irisan daun bawang dan cabe ‘menyelimuti’ nasi panas dan ditemani cah taoge, yang dioseng cepat – sehingga masih renyah saat di santap. Saus spesial racikannya kemudian dikucurkan dengan…

  • Pelanggan Pertama

    Pagi tadi, Andy Setiawan, mahasiswa Magister Manajemen Universits Sanata Dharma, mampir sebagai pelanggan pertama Warung Tegal Pakel Jaya. Kopi Susu ABC menemani kami ngobrol ke sana ke mari, samil menikmati hari-hari awal buka warung.

  • Teras Menyambut Terik

    Pak Sarjono dan kawan-kawan mulai membangun atap untuk teras berlantai batu bata. Dari kayu Nangka dan Sengon.

  • Eyang dan Ibu

    Warung ini diberi nama Tegal Pakel oleh Eyang Sumo, ibu dari Genep Sukendro, satu dari tiga pemilik warung. Tegal Pakel merupakan nama ‘purba’ dari dusun Pangukan, nama wilayah di mana warung kini berada. Oleh Genep, kata ‘Jaya’ ditambahkan di belakangnya, menegaskan ‘rasa’ zaman dulu. Ibu Ria memberkati warung Tegal Pakel jaya dengan ‘sajen’ dari pelepah…

  • Paranginan

    Satu tetangga di Utara selain pak Yudi adalah ibu Nurmala Sianturi. Dari Sumatera Barat, mamih – panggilan sehari-harinya, menamai bangunan itu paranginan, seperti nama kampungnya, yang kira-kira berarti banyak angin berhembus dari segala penjuru mata angin. Keempat sisi warung memang dapat dibuka, menjadikan bangunan itu menjadi ‘transparan’ dengan lingkungannya.

  • Slametan, Tes Kompor

    Sampailah pada Hari Selasa, Pahing, 20 Mei 2025. Kompor dan teman-temannya di warung mulai diuji coba. Boras Sipir Ni Tondi kata mamih. Segenggam beras ditabur di atas kepala Lila Noviastantri, satu dari tiga pemilik warung Tegal pakel Jaya. Tetangga, tukang, dan pedagang kursi bambu diundang untuk mencicipi mi instan versi warung. Terlihat sama dengan sajian…

Ada masukan?