Membaca adanya ‘lowongan’ untuk pengajuan proposal di Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, TPJ memberanikan diri untuk terlibat. Pertama dengan membantu menyebarluaskan berita itu, yang kedua, memberanikan diri mengajukan sebuah gagasan.
Mengetahui ada pasaran atau pahingan di depan warung setiap lima hari sekali, TPJ menyodorkan sebuah proposal untuk mengemukakan ‘seni rendahan’, atau kitsch, sebgai bentuk ekspresi dan semangat zaman. Proposal itu dapat dibaca di sini.
Kami di TPJ membayangkan, seandainya ribuan warmindo yang ada di Yogyakarta, atau warung Tegal yang banyak tersebar di kota-kota besar di Indonesia, menggelar pameran secara sederhana, tentang apa pun yang menceritakan kehidupan, pastinya hidup kita akan lebih ‘berwarna’. Tidak sekedar untuk mendatangkan pelanggan untuk ‘ngopi’, tapi juga untuk berbagi cerita, kesenangan, atau apa pun itu.




Tinggalkan Balasan