Warung yang Ngeyel

Di awal abad 21 ini, sebuah warung sejatinya adalah tempat di mana orang dapat minum secangkir kopi ‘sasetan’ atau menyantap mi instan di tengah kesibukan sehari-hari. Warung Tegal Pakel pun menyediakan minuman dan makanan ‘standar’ kaum pekerja kota dan (kini) desa itu. Seperti yang pertama terlihat di warmindo (warung mi Indonesia) yang banyak tersebar di Yogyakarta, belasan renceng saset (sachette) berwarna-warni bergantungan pada sebatang kayu panjang atau pada seutas tali. Kemasan berderet memanjang itu bergelantungan menawarkan beragam rasa penawar dahaga. Bersebelahan dengan kemasan-kemasan mengkilat itu, biasanya, terdapat barisan mi instan yang juga dengan kemasan plastik berwarna-warni.

Tegal Pakel Jaya (TPJ) menjadi penambah jumlah warung yang ada di utara kota Yogyakarta, walau konon, terdapat puluhan atau mungkin ratusan warung sejenis yang dibuka atau ditutup untuk selamanya, setiap harinya. Warung TPJ buka dengan mengikuti standarisasi harga jual produk-produk sasetan, yang relatif murah, meriah. Minimal Rp3,500,- untuk kopi hitam panas dari kemasan mengkilat bergambar kapal api. Air sumur yang telah direbus disediakan cuma-cuma. Di samping minuman dan makanan pabrikan, TPJ menyajikan minuman ‘beneran’, masakan ‘rumahan’ resep dari ibu dan handai tolan. Setiap tamu, pelanggan yang datang diberi pilihan: ” Teh? Kopi? Sasetan atau Beneran?

Sasetan opo beneran.. pilih sing ndi?


Diterbitkan

dalam

oleh

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *